Homepage Pribadi Abu Muhammad Mukhtar bin Hasan al-Atsari

Dialog Antara Pemilik Janggut dan Pencukur Janggut



Oleh : Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Abdul Karim Al Juhaiman
Syaikh Abdullah bin Jarullah Alu Jarullah

Segala puji untuk Allah atas segala nikmat-Nya.shalawatdan salam untuk makhluk-Nya yang paling mulia dan penutup para nabi, Muhammad صلي الله عليه وسلم, dan para keluarga, dan sahabat beliau.

Di zaman ini telah tersebar salah satu jenis model banci yang disebut mencukur jenggot. Sebuah kebetulan yang sangat indah, duduk di sebuah majelis dua orang yang saling berlawanan. Yang satu adalah orang yang Allah karuniai jenggot yang menawan, sekaligus ciri kejantanan yang sangat jelas. Dia merawatnya, bangga dengannya, bahkan menganggap hal itu sebagai sebuah kemuliaan. Sedangkan orang kedua adalah orang yang memusuhi dan benci dengan ciri ini. Oleh karena itu, jenggotnya dia cukur habis dengan pisau cukur. Dari lubuk hatinya yang paling dalam dia bercita-cita, meski konyol, andai dia mampu mencabuti rambut tersebut satu persatu dari akar-akarnya, tentu akan dia lakukan agar wajahnya tetap mulus bersih dari rambut-rambut tersebut, sehingga wajahnya halus tanpa jenggot seperti wajah seorang gadis.

Dua orang yang bisa dinilai sebagai dua orang yang bermusuhan ini bertatap muka. Keduanya lalu membawakan alasannya masing-masing demi membela kebiasaannya. Berikut ini dialog yang terjadi dengan sedikit diringkas.

Pemilik jenggot (selanjutnya disebut J):
(sambil berisyarat kepada lawan bicaranya) Mengapa setiap pagi dan petang kulihat kau bersusah-payah menghilangkan rambut-rambut itu seakan-akan Allah membebanimu dengan sebuah perintah untuk menghilangkannya. Tidak, bahkan aku yakin andai kau benar-benar diperintahkan untuk melakukannya tentu engkau akan malas dan menganggapnya sebagai pekerjaan berat dan beban yang sudah melewati batas.

Orang yang mencukur jenggot (selanjutnya disebut AJ): Apa urusanmu dengan rambut-rambut ini. Mau kucukur atau kubiarkan ini kan jenggot-jenggotku sendiri yang bisa kuperlakukan semauku sendiri. Subhanatlah!!Jenggot-jenggotku sendiri ingin kau atur-atur juga!

J : Tenang wahai saudaraku! Mengapa pakai emosi segala! Kita ingin berdialog dalam suasana yang penuh kejernihan dan rasa cinta. Sampaikan alasanmu akan kusampaikan alasanku. Mari berdialog namun kita semua harus berprinsip bahwa tujuan kita adalah mencari kebenaran. Kebenaran itulah yang kita cari bersama. Kita akan mengambil kebenaran itu di mana saja kebenaran itu ada. Tidakkah kau setuju dengan persyaratan ini?

AJ: Ya, aku setuju. Akan tetapi, apa yang akan kau sampaikan sehingga aku bisa mengutarakan pendapatku?

J  : Jika demikian, mari kita kembali kepada pernyataan yang telah kau sampaikan. Tadi kau bilang bahwa jenggot itu adalah jenggot-jenggotmu sendiri terserah mau kau apakan. Ya, memang itu merupakan jenggotmu sendiri, tetapi terserah mau kau apakan itu tidak benar.

AJ: (emosi, marah-marah, hendak bangkit, hampir saja kemarahannya meledak)

J : Jangan tergesa-gesa, santailah, tunggu sampai aku menyelesaikan jawabanku, baru setelah itu kau bisa berkomentar sesuai dengan yang kau inginkan. Salah satu karakteristik dan ciri khas umat ini adalah Allah jadikan sebagai umat yang beramar ma'ruf dan nahi munkar.

"Kalian adalah sebaik-baik manusia yang dilahirkan untuk manusia. Kalian beramar ma'ruf dan nahi munkar." (Qs. Ali 'Imran: 110)

Muhammad صلي الله عليه وسلم, pemimpin seluruh manusia bersabda,

"Barangsiapa melihat kemungkaran maka hendaklah dia ubah dengan tangannya. Jika dia tidak mampu maka dengan lisannya. Bila tidak mampu maka dengan hati-nya." (HR. Muslim)

Kita sebagai umat Islam seharusnya seperti sebuah jasad. Sebagian tubuh merasa sakit karena bagian tubuh yang lain. Kita nilai kebaikan orang lain sebagaimana kita juga menilai kejelekan orang tersebut. Bukankah demikian?

Aj: (dengan roman muka terpaksa) Ya.

J  : Selama kau akui hal tersebut maka kukatakan kepadamu bahwa mencukur jenggot itu termasuk kemungkaran. Aku berkeyakinan bahwa ikatan persaudaraan seagama mengharuskanku untuk mengingatkan hal tersebut.

AJ: (dengan suara tercekik yang menunjukkan ketidakberdayaan) Rambut-rambut ini hanya sejenis kotoran. Di dalamnya terdapat beragam mikro-bakteri. Menghilangkan rambut-rambut tersebut termasuk ajaran kebersihan dalam agama kita. Padahal Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda, "Kebersihan itu sebagian dari iman."

J : (dengan penuh percaya diri dan yakin akan menang) Aku rela menyerahkan hukum kepada orang yang bersabda, "Kebersihan itu sebagian dari iman." Apakah kau juga rela melakukan hal serupa?

AJ: (dengan sedikit bimbang) Ya.

J : Jika demikian, mari kita perhatikan orang yang bersabda, "Kebersihan itu sebagian dari iman." Andai hadits tersebut benar-benar shahih, maka kita cermati apakah beliau mencukur jenggotnya? Apakah beliau pangkas habis dengan pisau cukur setiap pagi dan petang dengan anggapan bahwa hal itu termasuk kebersihan yang beliau anjurkan kepada umatnya, sebagaimana pradugamu? Ataukah beliau malah membiarkannya dan memerintahkan untuk membiarkannya?

Aj: (tampak jelas tanda-tanda kebingungan yang menunjukkan kalau dia telah melakukan sebuah kesalahan)

J : Terdapat keterangan yang jelas dari Rasulullah صلي الله عليه وسلم , yang tidak diragukan dan tidak bisa diotak-atik lagi, bahwa beliau memiliki jenggot dengan rambut yang lebat. Beliau bahkan memerintahkan agardibiarkan untuk menyelisihi orang-orang musyrik.

AJ: (dengan wajah masam seolah merasa terpojok) Tinggalkanlah ucapan seperti itu. Setiap zaman memiliki akhlak dan tradisi berbeda. Dalam hal ini acuannya adalah perasaan dan hal ini sama sekali bukan wilayah agama. Setiap orang boleh berbuat sebagaimana kehendak perasaannya dan hal yang dimantapi oleh hatinya. Biarkan aku mengikuti perasaanku dan pergilah engkau mengikuti perasaanmu. Aku tidak mau mengikutimu!

J : Subhanallah, kau katakan acuan dalam masalah ini adalah perasaan dan hal ini bukan merupakan wilayah agama? Benar-benar mengherankan. Bisa-bisanya kau tidak mengetahui perkara ini dalam syariat. Aku ingin bertanya, jawablah demi rabbmu. Apa sih agama itu?

AJ: (bingung lantas terdiam, kemudian memandang J seolah bertanya)

J : Bukankah agama adalah yang terdapat di dalam al Qur'an dan sunnah Nabi صلي الله عليه وسلم yang shahih?

AJ: (menganggukkan kepala)

J :Jika demikian mari kita renungkan, apakah
terdapat keterangan dari Rasulullah صلي الله عليه وسلم mengenai
hal ini atau tidak?

AJ: Ya, carilah lalu sampaikan keterangan dari
Rasulullah صلي الله عليه وسلم .kepadaku!

J : Dengan senang hati, namun izinkanlah aku
menyampaikan sebuah pengantar sebelum membawakan berbagai dalil.

AJ: Silakan.

J : Hadits dari Rasulullah صلي الله عليه وسلم berkenaan dengan hal ini hampir sampai derajat mutawatir atau bahkan telah sampai derajat mutawatir. Aku yakin tentu kau ingin tahu hikmah yang terkandung dalam larangan mencukur jenggot. Dalam syariat Nabi صلي الله عليه وسلم seringkali memerintahkan menyelisihi orang-orang musyrik. Tahukah engkau mengapa seperti itu?

AJ: Tidak tahu.

J : Menyelisihi orang-orang musyrik merupakan salah satu tujuan syariat karena serupa secara lahir akan menyebabkan dan menghasilkan serupa secara batin. Secara umum, seorang muslim hendaknya menyelisihi orang musyrik dalam masalah agama, tradisi, akhlak, dll.. Aku yakin sekarang kau ingin mengetahui dalil-dalil dari Rasulullah صلي الله عليه وسلم mengenai masalah ini.

AJ: (dengan suara mengejar) Ya, hilang sudah kesabaranku. Aku telah rindu untuk mengetahui dalil-dalil yang kau janjikan semenjak tadi.

J : Bila demikian, inilah sebagiandalil-dalil tersebut. Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda,
"Selisihilah orang-orang musyrik, lebatkanlah jenggot, dan pangkaslah kumis." (HR. Bukhari dan Muslim)
"Selisihilah orang-orang Majusi karena mereka memendekkan jenggot dan memanjangkan kumis." (HR. Muslim)
Dari Ibnu 'Umar ra , beliau berkata, "Kami diperintahkan untuk mencukur kumis dan memelihara jenggot." (HR. Muslim)

Salah satu ciri fisik Rasulullah صلي الله عليه وسلم adalah memiliki rambut jenggot yang lebat. (HR. Muslim)

Sedangkan Allah berfirman,
"Sungguh, dalam diri Rasulullah صلي الله عليه وسلم terdapat suri teladan yang balk." (Qs. al Ahzab: 36)

Dan masih banyak dalil berupa hadits dari Rasulullah صلي الله عليه وسلم berkaitan dengan hal ini.

Lihatlah, Rasulullah صلي الله عليه وسلم membiarkan jenggotnya, beliau memerintahkan umatnya untuk menyelisihi orang-orang musyrik dan majusi dengan memangkas kumis dan memelihara jenggot, karena menyelisihi orang musyrik —sebagaimana tadi telah kami sampaikan— merupakan salah satu tujuan syariat. Sebab, menyerupai orang musyrik secara lahir akan menyebabkan timbulnya rasa cinta dalam hati, sebagaimana rasa cinta dalam hati menyebabkan keinginan menyerupainya secara lahir. Dengan penjelasan ini, tidakkah sekarang jelas bahwa perkara ini tidak sebagai mana yang telah kau utarakan, yaitu urusan jenggot adalah urusan perasaan dan bukan wilayah agama? Apakah sekarang kau bisa mengetahui kerancuan dan titik lemah pendapatmu dan kebenaran ada pada pihak kami?

AJ: (setelahber pikirdalam dalam) Sekarang memang tidak ragu lagi bahwa pendapatmu memang benar. Akan tetapi, aku mempunyai alasan yang ingin kuutarakan kepadamu. Orang-orangdi lingkunganku suka mengolok-olok dan merendahkan orang yang berjenggot. Mereka memandang remeh dan hina terhadap orang yang berjenggot. Aku yakin kau pernah mendengar untaian syair:

andai jenggot ini ganja
lalu jadi pakan kuda - kuda umat islam


Bait syair di atas menyebabkan orang-orang yang berjenggot naik pitam. Mereka sampaikan bait di atas di hadapan orang banyak. Oleh karena itu, aku sekarang yakin bahwa memenhara jenggot adalah hal yang benar dan utama. Akan tetapi, aku    tidak mampu melakukannya.

J : Keyakinanmu itu memang benar, tetapi ketidakberdayaanmu melakukannya tidak memberikan manfaat kepadamu. Bahkan, orang yang tidak tahu lebih baik dari pada dirimu. Hal ini karena tidak ada gunanya kita mengetahui kebenaran sesuatu bila tidak disertai pengamalan.

AJ: Selama aku masih mengakui hal itu benar—aku tidak menerapkannya karena suatu sebab, aku meninggalkannya karena beralasan— tidakkah hal itu bisa dijadikan alasan untukku?

J : Tidak, engkau tidak memiliki alasan, peganglah tanganku ini agar kutunjukkan bahwa pendapat yang tepat dan benar adalah pendapatku. Paman Nabi صلي الله عليه وسلم, Abu Thalib, paman bagi pemimpin seluruh manusia yaitu Muhammad صلي الله عليه وسلم. Dia membela Rasulullah صلي الله عليه وسلم dengan lisan dan fisik. Segalanya dia korbankan untuk menolong Nabi صلي الله عليه وسلم. Di samping itu beliau mengakui bahwa agama yang dibawa oleh keponakannya itu benar. Lawan kebenaran adalah kesesatan.

Dalam sebuah qasidah Abu Thalib bersenandung,

sungguh kutahu agama muhammad صلي الله عليه وسلم
adalah sebaik-baik agama seluruh makhluk
andai tidak karena celaan atau takut cacian
sungguh kau dapat menyaksihkan aku dapat menerimahnya


Abu Thalib sendiri menyatakan bahwa dia tidak mengikuti agama yang dia yakini kebenarannya hanya karena takut celaan dan cacian, seperti dalam kasus anda mencukur jenggot. Meski demikian Abu Thalib termasuk penghuni neraka sebagaimana tersebut dalam al Qur'an dan sunnah Rasul. Pengetahuan Abu Thalib mengenai kebenaran tidaklah berguna karena tidak diiringi dengan amal.

AJ: (berdiri lalu menjabat tangan lawan bicaranya sebagaimana jabat tangan seorang teman terhadap temannya. Dia lalu berkata dengan nada penuh ketulusan dan persaudaraan) Sekarang kusadari bahwa kebenaran itu bersamamu. Dadaku telah lapang untuk menerima pendapatmu.
Sejak detik ini aku akan menjadi orang yang berjenggot, orang yang memelihara jenggot karena menganggapnya sebagai sebuah kemuliaan dan mempertahankannya sebagai pembeda dan ciri khas. Kuanggap pertemuan kita saat ini merupakan pertemuan yang paling membahagiakan. Ucapanmu akan kujadikan senjata terhadap orang-orang yang ingin menghilangkan ciri khas kelelakian dari para pemuda dan senjata terhadap orang-orang tanpa sadar menyelisihi agamanya.

J: Sebelum kita berpisah aku ingin menyampaikan sebuah nasihat berharga dan kenyataan yang ada. Kita, kaum muslim, pada zaman ini mengalami kelemahan pada segenap sisi. Kita lemah dalam aspek agama, moral, finansial, industri, dan fisik badan. Kita menginginkan masa depan yang gemilang, memiliki kemuliaan, dan kekuasaan yang luas. Jika kita menginginkan itu semua, seyogyanya kita kuatkan diri kita dalam seluruh aspek. Salah satu di antaranya adalah fisik badan. Menguatkan fisik badan tidak menuntut sesuatu yang memberatkan. Kita hanya dituntut untuk tidak cenderung pada kelembutan dan kita dituntut untuk meninggalkan kecenderungan yang membawa kepada sikap lemah-lembut seperti perempuan. Kita harus memberikan per-hatian untuk menggunakan makanan, minuman, pakaian, dll. yang cenderung kasar. Salah satu pemicu timbulnya rasa malu adalah adanya beberapa tokoh yang hendak melenyapkan ciri khas kelelakian dari para pemuda dengan bentuk-bentuk kewariaan, lembut, lunak, dan mudah sedih, sehingga jika tubuh mereka dihembus sedikit angin menjadi kurang sehat dan hanya bisa terbaring di tempat tidur beberapa hari lamanya. Semoga Allah membimbing mereka ke jalan yang lurus.

Sumber : Saya Nukil Dari Buku Janggut Yes Isbal No yang di terbitkan oleh Pustaka Media Hidaya
Silakan Share Artikel Ini :

2 comments:

  1. Assalamu'alaikum
    ijin copy paste ya akh
    Jazakumullohu Khoiron

    ReplyDelete
  2. wa'laikumsalam.

    silahkan, semogah antum bisa mendapatkan kebaikan yang banyak.


    barakallahu fiikum

    ReplyDelete

Perihal :: Mukhtar Hasan ::

لا عيب على من أظهر مذهب السلف وانتسب إليه واعتزى إليه، بل يجب قبول ذلك منه بالاتفاق؛ فإن مذهب السلف لا يكون إلا حقًا

Tidaklah aib (tercela) bagi orang yang menampakkan madzhab salaf, bernisbat kepadanya dan berbangga dengannya. Bahkan wajib menerima pernyataan tersebut darinya dengan kesepakatan, karena sesungguhnya tidaklah madzhab salaf itu melainkan kebenaran.

Atau silahkan gabung di Akun facebook saya

================================
Semoga komentar anda bermanfaat bagi kami dan bagi anda

 
Support me : On Facebook | On Twitter | On Google_Plus
Copyright © 2011. Website's : Mukhtar Hasan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger