Homepage Pribadi Abu Muhammad Mukhtar bin Hasan al-Atsari

Tauhid Dan Macam-Macamnya...!!!

Tauhid Dan Macam-Macamnya...!!! [1]

Soal: Apa yang anda ketahui tentang tauhid dan macam-macamnya

Jawab oleh Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah

Hany Allah Saja
Tauhid تَوْحِيْدًا adalah bentuk masdhar dari kata وَحَّدَ - يُوَحِّدُ atau "menjadikan sesuatu hanya satu". Tauhid ini tidak akan terealisasi kecuali dengan menolak dan menegaskannya. Yaitu menolak hukum selain yang satu dan menegaskannya.

Misalnya kita katakan "Tidak sempurna tauhid seseorang hingga dia bersaksi tidak ada tuhan selain Allah," maka dia menolak tuhan-tuhan selain Allah, dan hanya menegaskan hanya Allah semata sebagai tuhan. Penolakan yang utuh berarti mengabaikan secara utuh dan penegasan secara utuh berarti tidak memberikan ruang bagi yang lain untuk terlibat di dalam hukum.

Jika anda katakan "si fulan berdiri" maka pernyataan ini menegaskan bahwasanya si fulan berdiri tetapi tidak berarti hanya dia yang berdiri, karena bisa jadi ada juga orang lain yang berdiri. Tetapi jika anda katakan "Tidak ada orang yang berdiri" berarti anda telah menyatakan penolakan secara tegas, sehingga tidak ada seorangpun yang berdiri.

Jika anda katakan "Tidak ada yang berdiri selain Zaid", berarti hanya Zaid saja yang berdiri dan menolak ada orang lain yang berdiri. Itulah hakekat Tauhid dalam realitas, atau tauhid tidak terjadi hingga mengandung unsur penolakan dan penegasan. Mentauhidkan Allah dalam arti umum adalah mengesakan Allah subhaanahu wa ta'aala dengan sesuatu yang khusua kepada-Nya.

Tauhid ini menurut ahlul ilmi terdiri dari tiga macam:

  • Tauhid Rubuubiyyah
  • Tauhid Uluuhiyyah
  • Tauhid al-Asmaa' was-Shifaat

Ketiga macam tauhid itu bisa diketahui dengan cara melihat, menela'ah, dan meneliti ayat-ayat dan hadits-hadits, sehingga mereka dapati bahwa tauhid tidak keluar dari ketiga macam tauhid ini.


♻ Tauhid Rubuubiyyah ( توحيد الربوبيّة )

Yaitu mengesakan Allah dalam penciptaan, kekuasaan dan pengaturan. Rinciannya adalah sebagai berikut:

  • Dilihat dari sisi keesaan Allah dalam penciptaan maka hanya Allah lag yang Maha menciptakan, tidak ada Pencipta selain-Nya. Allah subaanahu wa ta'aala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)? (QS Faathir : 3)

Mengenai kebathilan orang kafir, Allah berfirman:


أَفَمَنْ يَخْلُقُ كَمَنْ لَا يَخْلُقُ ۗ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ


Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)?. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. (QS An-Nahl : 17)

Hanya Allah lah yang Maha Menciptakan, menciptakan segala sesuatu lalu menentukannya dengan ketentuan takdir yang sempurna. Ciptaan-Nya mencakup segala makhluk dan apa yang diperbuat oleh makhluk-Nya. Maka dari itu di antara tanda kesempurnaan iman terhadap taqdir adalah beriman bahwa Allah-lah Yang Menciptakan amal perbuatan manusia, seperti dalam firman-Nya,

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu". (QS Ash-Shaffat : 96)

Demikian itu karena perbuatan hamba termasuk sifat-Nya dan hamba diciptakan oleh Allah, maha Pencipta segala sesuatu berarti juga Pencipta sifat-sifat-Nya. Dari sisi lain bahwa perbuatan hamba terjadi karena kehendak yang mutlak dan ketetapan yang pasti, sementara kehendak dan ketetapan semuanya diciptakan oleh Allah dan Pencipta sebab berarti juga pencipta sesuatu yang disebabkan.

Jika ditanyakan: "Bagaimana kita mempertemukan antara keyakinan bahwa hanya Allah-lah Yang Maha Menciptakan padahal dalam hadits juga di tegaskan bahwa penciptaan juga di sandarkan kepada selain Allah? 

Di satu sisi Allah berfirman:

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.(QS Al-Mu'minuun : 14)

Tetapi di sisi lain Nabiy Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda

إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُعَذَّبُونَ ، فَيُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ

“Sesungguhnya pembuat gambar ini akan disiksa pada hari kiamat. Dikatakan pada mereka, “Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan (buat).” (HR. Bukhari no. 2105 dan Muslim no. 2107)

Jawabannya : Bahwa selain Allah tidak menciptakan seperti penciptaan Allah. Tidak mungkin bagi makhluk menciptakan sesuatu dari ketiadaan dan tidak mungkin bagi makhluk menghidupkan orang mati. Tetapi yang dilakukan manusia hanyalah mengubah, yaitu mengubah seauatu dari satu sifat kepada sifat yang lain, sehingga dikatakan bahwa yang menciptakannya tetap Allah.

Seorang pemahat misalnya, jika dia membuat sebuah patung, sebenarnya dia tidak menciptakan sesuatu, tetapi dia hanya mengubah dari sesuatu kepada sesuatu yang lain, seperti mengubah tanah menjadi seperti bentuk burung atau unta. Begitu juga dia hanya mengubah warna dari warna putih menjadi warna-warna lainnya, sementara bahan-bahannya berasal dari ciptaan Allah, karena kertas putih adalah ciptaan Allah.

Itulah perbedaan dalam PENEGASAN Penciptaan kepada Allah, dan PENWGASAN pembuatan kepada manusia. Dengan demikian hanya Allah-lah yang menciptakan.

  • Hanya Allah-lah Yang memiliki kerajaan dan Dia-lah rajanya, 
Seperti yang di firmankan:

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, (Al-Mulk : 1)

Kemudia firmannya yang lainnya:

قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?" (Al-Mu'minuun : 88)

Dengan demikian, raja diraja atau maha merajai yang mutlak secara umum dan menyeluruh adalah Allah semata, sedangkan penisbatan kekuasaan selain-Nya adalah penisbatan nisbi (semu). Allah subhaanahu wa ta'aala sendiri, memang telah menegaskan adanya kekuasaan kepada selain-Nya, seperti yang di firmankan-Nya:


أَوْ مَا مَلَكْتُمْ مَفَاتِحَهُ


"Atau di rumah yang kamu kuasai kunci-kuncinya (QS an-Nuur : 61)

Kemudian di ayat yang lain:

إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ

kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. (QS Al-Mu'minuun : 6)

Masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa selain Allah juga mempunyai kekuasaan. Tetapi kekuasaan itu tidak seperti kekuasaan Allah, yaitu kekuasaan yang bersifat terbatas dan terikat.

Kekuasaan yang bersifat terbatas tidak menyeluruh. Rumah yang dimiliki yazid tidak dimiliki amru dan begitu juga sebaliknya. Kekuasaan semacam itu terikat sehingga seseorang tidak bisa memperlakukan apa yang dimilikinya kecuali pada batas-batas yang diizinkan Allah di dalamnya. Maka dari itu, Allah subhaanahu wa ta'aala melarang Nabiy shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menyia-menyiakan harta, sehingga Allah Berfirman,

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.(QS An-Nisa' : 5)

Ini menjadi bukti bahwa kekuasaab manusia itu terbatas dan terikat. Lain halnya dengan kekuasaan Allah adalah kekuasaan mutlak. Allah bebas berkehendak sesuka hati-Nya dan tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, sedangkan mereka ditanya atas apa yang mereka perbuat.

  • Pengaturan. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengatur
Dia mengatur makhluk, mengatur langit dan bumi; seperti yang difirmankan Allah:

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

"Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam (QS al-A'raf : 54)

Pengaturan Allah ini menyeluruh, tidak dibatasi oleh Selai-Nya, dan tidak ada yang menghalangi-Nya. Sedangkan pengaturan sebagian makhluk seperti manusia mengatur harta, anak-anak, pembantu-pembantunya dan sebagainya adalah pengaturan yang sempit lagi terbatas serta terikat dan tidak mutlak. Dengan demikian tampaklah kebenaran dari pendapat kami bahwa Tauhid Rubuubiyyah adalah "Mengesakan Allah dalam penciptaan, kekuasaan dan pengaturan."

♻ Tauhid Uluuhiyyah ( توحيد الألوهية، أو توحيد العبادة )

Tauhid Uluuhiyyah, yaitu mengesakan Allah dalam beribadah dengan tidak menyembah seauatu dan mendekat kepadanya seperti menyembah Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Tauhid semacam inilah yang menjadikan orang-orang musyrik itu sesat, sehingga mereka diperangi Nabiy shallallahu 'alaihi wa sallam; darah, harta, tanah, dan rumah mereka halal, wanita-wanita dan anak-anak mereka di tawan. Dialah yang karena tauhid ini mengutus para rasul dan menurunkan al-Kitaab, untuk menjelaskannya, disamping menjelaskan tauhid Rubuubiyyah, dan tauhid asmaa' dan shifaat. Tetapi penyakit kaum yang paling banyak diobati oleh para rasul adalah penyakit tauhid Uluuhiyyah ini, sehingga tidak diperkenankan seorangpun untuk beribadah kepada selain Allah, baik Raja besar, Nabiy yang diutus, wali yang shaalih atau siapapun dari para makhluk; karena ibadah tidak sah kecuali kepada Allah. Barangsiapa yang melanggar tauhid ini maka dia jelas menjadi musyrik dan kaafir, walaupun dia mengakui adanya tauhid Rubuubiyyah dan tauhid al-Asmaa' was Shifaat.

Jika ada seseorang percaya bahwa Allah adalah Pencipta, Raja dan Pengatur segala urusan, dan bahwa Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat, tetapi disamping itu dia juga menyembah selain Allah, maka pengakuannya terhadap tauhid Rubuubiyyah, dan tauhid asmaa' was shifaat itu, tidak ada gunanya. Seandainya ada seorang yang sangat percaya penuh kepada tauhid Rubuubiyyah dan tauhid asmaa' was sifat, tetapi dia pergi ke kuburan dan menyembah penghuninya, atau bernazar akan menyembeli kurban di tempat itu untuk mendekatkan dirinya, maka dia adalah Musyrik dan kaafir yang abadi di dalam neraka. Allah subhaanahu wa ta'aala berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.(Al-Maidah : 72)

Diketahui bersama bahwa setiap orang yang membaca kitabullah tahu bahwa orang-orang musyrik yang di perangi Nabiy shallallahu 'alaihi wa sallam, dihalalkan darah dan harta mereka, istri-istri dan anak-anak mereka ditawan, serta tanah mereka dijadikan harta rampasan padahal mereka adalah orang-orang yang mengakui bahwa Allah itu Esa, Tuhan Yang Maha Pencipta. Tidak diragukan lagi dalam hal ini, tetapi tatkala mereka menyembah/beribadah selain Allah disamping menyembah/beribadah kepada-Nya, maka dengan serta merta mereka menjadi orang-orang musyrik yang darah dan harta mereka dihalalkan.

♻ Tauhid 'Asmaa' Was Shifaat ( توحيد الأسماء و الصفات )

Yaitu : mengesakan Allah dengan menegaskan bahwa hanya Allah sendirilah yang menamakan Diri-Nya dan memberikan sifat untuk Diri-Nya dalam kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya tanpa perubahan, penyangkalan, pertanyaan, dan permisalan. Kita harus mengimani nama yang dengannya Allah menyifati diri-Nya, dengan cara yang sebenarnya bukan secara kiasan, tetapi tanpa mempertanyakan bagaimana dan tanpa membuat permisalan.

Dalam bertauhid pada jenis ini, banyak orang yang telah tersesat dari ummat ini, yang menisbatkan dirinya kepada islam. Kesesatan mereka ini dapat dikelompokan menjadi beberapa macam:

Diantara mereka ada yang berlebih-lebihan dalam menolak sehingga mengeluarkannya dari Islam, diantara mereka ada yang menengah dan ada pula yang dekat dengan ahlus sunnag. Tetapi cara salaf dalam memahami tauhid jenis ini adalah memberikan nama kepada Allah sesuai dengan nama yang ditetapkan-Nya sendiri dan menyifati-Nya dengan sifat yang ditetapkannya sendiri dalam bentuk yang sebenarnya tanpa perubahan tanpa penolakan, tanpa mempertanyakan dan tanpa membuat permisalan.

Diantaranya, bahwa Allah subhaanahu wa ta'aalah menamakan diri-Nya dengan AL-HAYYU AL-QAYYUM (Dzat Yang Maha Hidup Kekal Lagi Terus Menerus), maka kita harus beriman bahwa AL-HAYYU adalah salah satu dari nama Allah yang harus kita imani. Sifat yang terkandung dalam nama ini adalah bahwa Allah mempunyai sifat yaitu Maha Hidup sempurna yang tidak didahului dengan ketiadaan dan tidak akan mengalami kehancuran.

Allah juga menamai diri-Nya dengan As-Saami' (Maha Mendengar), maka kita harus beriman bahwa As-Saami' merupakan salah satu nama Allah dan Maha Mendengar merupakan salah satu sifat dari sifat-sifat-Nya. Dengan demikian Dia mendengar dan itulah hukum yang dikandung oleh nama dan sifat itu, karena Maha Mendengar tanpa pendengaran atau pendengaran tanpa mengetahui yang didengar merupakan perkara MAHLUL dan tidak mungkin.

Contoh lainnya, Allah Subhaanahu wa ta'aala berfirman;

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا ۘ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ ۚ

Orang-orang Yahudi berkata: "Tangan Allah terbelenggu", sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki (QS Al-Maaidah : 64)

Disini firman Allah, "Kedua-dua Tangan Allah senantiasa terbuka" berarti Allah menegaskan bahwa Diri-Nya mempunyai DUA TANGAN yang disifati dengan keterbukaan, yaitu memberi dan mempermudah, maka kita harus percaya bahwa Allah mempunyai DUA TANGAN yang terbuka untuk memberi nikmat dan karunia. Tetapi kita tidak boleh berusaha mencari gambaran dengan hati dan lisan kita serta mempertanyakan bagaimana bentuk kedua tangan itu dan tidak pula membuat permisalan dengan kedua tangan makhluk, karena Allah subhaanahu wa ta'aala berfirman:

ِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat (QS Asy-Syuuraa : 11)

Kemudian Allah berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui" (QS Al-A'raaf : 33)

Allah juga berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (QS Al-Israa' : 36)

Barangsiapa yang membuat permisalan tentang KEDUA TANGAN ALLAH itu dengan tangan makhluk berarti dia telah mendustakan firman Allah,

ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Tidada sesuatupun yang menyerupai-Nya (QS Asy-Syuuraa : 11)

Dan juga bermaksiat kepada Allah dengan menentang firmannya:

فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ ۚ

Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah (QS An-Nahl : 74)

Barangsiapa yang mempertanyakan bagaiman, dan berkata bahwa tangan itu berbentuk tangan tertentu bagaimanapun bentuknya, maka dia telah mengatakan sesuatu tentang Allah yang tidak diketahui. Tentang masalah sifat, misalnya kita beri contoh lain yaitu ber-istiwanya Allah di atas Singgasana ('Arsy). Allah subhaanahu wa ta'aala menegaskan bahwa dia ber-istiwa diatas singgasana ('Arsy) ditujuh tempat dalam kitab-Nya dengan lafadz "ISTAWA" dalam bahasa Arab kita dapati, jika bertemu dengan huruf "'Alaa" berarti "Ber-Istiwa diatas", sehingga makna firman Allah:

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas 'Arsy (QS Thaha : 5)

Dan ayat-ayat lainnya berarti ber-istiwa di atas 'Aray dengan cara khusus, bukan seperti bersemayamnya manusia secara umum. Persemayaman semacam ini hanya Allah yang memiliki dengan persemayaman yang sesungguhnya, yaitu bahwa dia bersemayam di atas singgasana-Nya, dengan persemayaman yang sesuai dengan (kehendak -Mukhtar Hasan) Allah, bukan seperti duduknya manusia di atas kasur atau menunggang di atas punggung binatang ternak, bukan pula seperti tingginya planet-planet di angkasa sebagaimana yang Allah firmankan:

وَالَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْفُلْكِ وَالْأَنْعَامِ مَا تَرْكَبُونَ

Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. (QS Az-Zukhruf : 12)

لِتَسْتَوُوا عَلَىٰ ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ

Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan: "Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, (QS Az-Zukhruf : 13)

وَإِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami".(QS Az-Zukhruf : 14)

Bersemayamnya makhluk diatas sesuatu tidak mungkin sama dengan bersemayamnya Allah di atas singgasana ('Arsy) Nya, karena Allah tidak ada yang menyerupai-Nya. Salah besar orang yang mengatakan bahwa makna " ISTIWA 'ALAA AL-'ARSY" (Menguasai Singgasana), karena ini telah menggantikan pembicaraan dari tempatnya dan bertentangan dengan kesepakatan para Shahabat dan Tabi'in, serta bersandar kepada pengertian bathil yang tidak mungkin bagi seorang Mukmin untuk berbicara dengannya, bila dikaitkan dengan Allah. Al-Qur'an diturunkan dengan bahasa arab, tanpa diragukan lagi, seperti yang difirmankan Allah,

إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).(QS Az-Zukhruf : 3)

Maksud dari kalimat "Istawa 'Alaa Kadza" dalam bahasa arab berarti "Istiqraar" (Bersemayam) dan itulah makna yang cocok terhadap lafal itu. Maka makna "Istawa 'alaa al-'Arsy" berarti bersemayam diatasnya dengan cara khusus yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Jika kata "Istiwa" ditafsirkan dengan "Istaula" (menguasai) berarti telah mengubah kalimat Allah dari keasliannya, karena dia telah menolak makna yang ditunjukkan oleh bahasa Al-Qur'an yaitu "al-'Uluuw" (bersemayam) dan menetapkan makna lain hukumnya bathil.

Para salaf dan tabi'in menyepakati makna ini dan tidak ada satu huruf pun yang bertentangan dengan pendapat ini. Jika ada lafal dalam al-Qur'an dan as-Sunnah, tetapi tidak ada penafsiran dari riwayat para salaf yang menentang makna dzahirnya, berarti bahwa mereka tetap mempertahankan makna lahir ayat itu dan meyakini kebenaran apa yang ditujukan-kan secara lahir itu. 

Jika ada seseorang bertanya: adakah lafal yang sharih dari salaf bahwa mereka menafsirkan kata "Istawa" dengan 'Alaa?

Saya jawab: ada, hal ini diriwayatkan dari para salaf. Kalaupun toh tidak ada riwayat yang sharih dari mereka, tetapi makna asal yang terkandung dalam lafal Al-Qur'an dan as-Sunnah itu semuanya ada pada makna asal yang ada pada bahasa arab, sehingga ketetapan para salaf ini selaras dengan makna itu.
Adapun indikator yang menunjukkan kesalahan dalam menafsirkan kata "Istawa" dengan "Istaula" adalah sebagai berikut:

  • Pertama: Bahwa 'Arsy sebelum penciptaan langit dan bumi bukanlah milik Allah karena Allah berfirman:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.(QS Al-A'raf : 54)

Dengan demikian Allah tidak menguasai 'Arsy sebelum penciptaan langit dan ketika menciptakan langit dan bumi.
  • Kedua : Dengan demikian sah bagi kita mengatakan bahwa Allah ber-istiwa di atas 'Arsy dan bersemayam diatas apa saja dari ciptaan-Nya. Tidak diragukan lagi, bahwa menafsirkan kata "Istiwa'" dengan "Istaula" adalah bathil dan tidak sesuai dengan Allah.
  • Ketiga: Hal itu mengubah kalamullah dari makna yang sebenarnya.
  • Keempat: Hal itu bertentangan dengan kesepakatan para salafus shaalih.
 
♻ Kesimpulannya: Bahwa dalam tauhid al-Asmaa' was- Shifaat kita harus menegaskan terhadap Allah sifat-sifat dan nama-nama yang Dia tegaskan sendiri untuk Diri-Nya atau di tegaskan Rasul-Nya dengan penegasan yang sebenarnya tanpa mengubah, tanpa meraba-raba, tanpa mempertanyakan, dan tanpa membuat permisalan.♻

# Tuntunan Tanya Jawab 'Aqidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji; Darul Falah, Hal 3-12. #

Report : Mukhtar Hasan
28, Robi'ul Aakhir 1436 H
18, February 2015
------------------
[1] : Ditulis Oleh Mukhtar Hasan dan penambahan Teks Arabic Ayat Al-Qur'an dan Hadits dari saya.
Silakan Share Artikel Ini :

Post a Comment

Perihal :: Mukhtar Hasan ::

لا عيب على من أظهر مذهب السلف وانتسب إليه واعتزى إليه، بل يجب قبول ذلك منه بالاتفاق؛ فإن مذهب السلف لا يكون إلا حقًا

Tidaklah aib (tercela) bagi orang yang menampakkan madzhab salaf, bernisbat kepadanya dan berbangga dengannya. Bahkan wajib menerima pernyataan tersebut darinya dengan kesepakatan, karena sesungguhnya tidaklah madzhab salaf itu melainkan kebenaran.

Atau silahkan gabung di Akun facebook saya

================================
Semoga komentar anda bermanfaat bagi kami dan bagi anda

 
Support me : On Facebook | On Twitter | On Google_Plus
Copyright © 2011. Website's : Mukhtar Hasan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger