Masukan untuk AH hafizohullah
Oleh : al-Ustaadz Abul Jauzaa' Dony Arif Wibowo, M.Hut

Menafsirkan al-Qur’an tentu harus berhati-hati, berusaha
merujuk kepada tafsiran para salaf - apalagi kalau mengaku bermanhaj salaf
-. Terlebih lagi kalau menimbulkan penafsiran model baru
dengan model tafsir majaz (kiasan) dan meninggalkan dzohir (tekstual) ayat,
lalu menyalahkan tafsir yang sudah dikenal oleh salaf dan kaum muslimin.
Saya rasa hampir seluruh kaum muslimin di dunia ini -termasuk
juga di Indonesia- menafsirkan atau menerjemahkan firman Allah “Ihdinash-Shiraathal-Mustaqiim” dengan
“Tunjukanlah kami kepada jalan yang lurus”.
Namun ternyata terjemah/tafsir yang selama ini diyakini
oleh kaum muslimin dinilai salah oleh al-Ustadz AH !!?
Ustadz Adi Hidayat dalam
video yang berjudul Cara Ampuh Berdoa Ketika Shalat Agar Cepat
Dikabulkan saat menjelaskan tempat dikabulkannya doa saat berdiri
shalat dengan membawakan hadits Abu Hurairah, berkata (mulai menit 06:17):
“Perhatikan, karena itulah saat berdiri
diberikan oleh Allah satu tawaran, kalau dibacakan diberikan apa yang
dibutuhkan. Mau nggak ? Itulah ihdinash-shiraathal-mustaqiim. Tunjukkan kami ya Allah, solusi terbaik dari masalah yang kami
miliki. Maaf,
ihdinash-shiraathal-mustaqiim itu arti yang tepat bukan ‘tunjukkan kami pada jalan yang lurus’. Itu bahasa kiasan. Ga pakai oo.. bu. Itu bahasa kiasan. Ihdinaa dari kata hudan, hidayah, itu solusi dari persoalan yang
dihadapi. Jadi punya masalah apapun ya Allah, solusinya tolong berikan. Ash-shiraathal-mustaqiim
itu kata kiasan. Majaz dalam bahasa
Arab. Yang mudah
tidak sulit prosesnya. Jadi berikan solusinya, tapi mudah. Jadi ketika kita
minta dalam shalat, itu minta ya Allah, saya punya masalah, tolong berikan. Diberikan oleh Allah satu bacaan. Dibaca.
Jadi yang punya masalah di rumah tangga, diberikan solusinya. Yang punya
masalah di pekerjaan, diberikan solusinya. Dan itu bukan biasa………”
Kesimpulan tafsir ustadz
AH :
- Arti “ihdinas shirothol mustaqim” dengan “Tunjukanlah kami jalan yang
lurus” ternyata salah
- Arti tersebut salah karena diterjemahkan secara tekstual, padahal menurut
ustadz AH susunan “Ihdinas shirothol mustaqim” adalah susunan majaz/kiasan
(tidak sesuai dzohir tekstualnya)
- Yang benar “Tunjukanlah kami solusi terbaik dari masalah yang kami hadapi
Adapun tafsir “ihdinas
shirothol mustaqim” menurut ahli tafsir adalah :
“Tunjukanlah/anugrahkanlah/ilhamkanlah/bimbinglah/berilah kepada kami jalan
yang lurus”.
Dan as-shirot al-mustaqim
menurut tafsir para ahli tafsir ada beberapa tafirasan yaitu : Kitabullah, tali Allah yang sangat kuat, Islam, agama
Allah, kebenaran, serta Nabi ﷺ dan kedua
shahabatnya : Abu Bakr dan ‘Umar
Ibnu
Katsiir rahimahullah berkata
(tentang tafsir “ihdina”)
والهداية هاهنا:
الإرشاد والتوفيق، وقد تعدى الهداية بنفسها كما هنا (1) { اهْدِنَا الصِّرَاطَ
الْمُسْتَقِيمَ } فتضمن معنى ألهمنا، أو وفقنا، أو ارزقنا، أو اعطنا
"Dan
al-hidayah di sini maksudnya adalah bimbingan dan taufiq. Kadang kata
al-hidayah dimuta'addikan dengan dirinya sebagaimana ayat ini 'ihdinash-shiraathal-mustaqiim';
sehingga mengandung pengertian “ilhamkanlah
kepada kami”, “Bimbinglah
kami”,
“Anugrahkanlah kami”, dan “Berikanlah kepada kami”
Beliau juga berkata (tentang tafsir as-shirot
al-mustaqim) :
وأما الصراط المستقيم، فقال الإمام أبو جعفر بن جرير: أجمعت الأمة من أهل
التأويل جميعًا على أن "الصراط المستقيم" هو الطريق الواضح الذي لا
اعوجاج فيه.
Adapun
'ash-shiraathul-mustaqiim', Al-Imaam Abu Ja'far bin Jariir berkata :
Umat Islam dari kalangan pakar ta'wiil (mufassiriin) telah SEPAKAT bahwa 'ash-shiraathul-mustaqiim'
maknanya adalah jalan yang jelas, yang tidak ada kebengkokan padanya" [Tafsiir
Ibni Katsiir 1/137].
Setelah
menurunkan ragam pendapat mufassirin tentang makna ash-shiraath al-mustaqiim
(Kitabullah, tali Allah yang sangat kuat, Islam, agama
Allah, kebenaran, serta Nabi ﷺ dan kedua shahabatnya : Abu Bakr dan ‘Umar), Ibnu
Katsiir rahimahullah berkata:
وكل هذه الأقوال صحيحة، وهي متلازمة، فإن من اتبع النبي صلى الله عليه
وسلم، واقتدى باللذين من بعده أبي بكر وعمر، فقد اتبع الحق، ومن اتبع الحق فقد
اتبع الإسلام، ومن اتبع الإسلام فقد اتبع القرآن، وهو كتاب الله وحبله المتين،
وصراطه المستقيم، فكلها صحيحة يصدق بعضها بعضا، ولله الحمد.
"Semua perkataan/penafsiran ini adalah
benar, yaitu saling menguatkan. Karena, barangsiapa yang mengikuti (ittiba')
Nabi ﷺ,
meneladani orang-orang sepeninggal beliau yaitu Abu Bakr dan 'Umar, sungguh ia
telah mengikuti kebenaran. Barangsiapa yang mengikuti kebenaran, sungguh ia
telah mengikuti Islam. Barangsiapa yang mengikuti Islam, sungguh ia telah
mengikuti Al-Qur'an, yaitu Kitabullah, tali-Nya yang sangat kuat, dan jalan-Nya
yang lurus. Semuanya penafsiran itu benar dan membenarkan yang lain. Walillaahil-hamd"
Terdapat
hadits marfuu’ dari Nabi ﷺ yang menjelaskan makna ash-shiraathul-mustaqiim:
عَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ الْكِلَابِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ ﷺ: " إِنَّ اللَّهَ ضَرَبَ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا عَلَى
كَنَفَيِ الصِّرَاطِ دَارَانِ لَهُمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ، عَلَى الْأَبْوَابِ
سُتُورٌ، وَدَاعٍ يَدْعُو عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ، وَدَاعٍ يَدْعُو فَوْقَهُ
وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ
مُسْتَقِيمٍ، وَالْأَبْوَابُ الَّتِي عَلَى كَنَفَيِ الصِّرَاطِ حُدُودُ اللَّهِ،
فَلَا يَقَعُ أَحَدٌ فِي حُدُودِ اللَّهِ حَتَّى يُكْشَفَ السِّتْرُ، وَالَّذِي
يَدْعُو مِنْ فَوْقِهِ وَاعِظُ رَبِّهِ "
Dari
An-Nawwaas bin Sam’aan Al-Kilaabiy, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah ﷺ : “Sesungguhnya Allah ta’ala telah
membuat perumpamaan ash-shiraathul-mustaqiim dengan shirath yang di sampingnya
ada dua tembok yang mempunyai pintu terbuka. Di setiap pintu terdapat tirai, penyeru
yang menyeru di tengah shiraath, dan penyeru yang menyeru di atasnya (penyeru
pertama). ‘Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang
yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam)’ (QS. Yuunus : 25).
Pintu-pintu yang berada di samping shiraath adalah batasan-batasan
(larangan-larangan) Allah. Tidak ada seorangpun yang jatuh kepada larangan
Allah hingga ia menyingkap tirainya. Penyeru yang berada di atasnya adalah penasihat
(ilham) dari Rabbnya”
Dalam
riwayat lain dirinci :
وَالصِّرَاطُ
الْإِسْلَامُ، وَالسُّورَانِ حُدُودُ اللَّهِ، وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ
مَحَارِمُ اللَّهِ، وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ كِتَابُ اللَّهِ
عَزَّ وَجَلَّ وَالدَّاعِي من فَوْقَ الصِّرَاطِ وَاعِظُ اللَّهِ فِي قَلْبِ كُلِّ
مُسْلِمٍ
“Dan
shiraath tersebut adalah Islam, kedua tembok/dinding adalah batasan-batasan
(larangan-larangan) Allah, pintu-pintu yang terbuka adalah hal-hal yang
diharamkan oleh Allah. Penyeru yang berada di tengah shiraath adalah Kitabullah
‘azza wa jalla, sedangkan penyeru yang berada di atas shiraath adalah penasihat
Allah (ilham) yang berada di hati setiap muslim” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy
no. 2859, Ahmad 4/182 & 183, Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah no.
18-19, dan yang lainnya; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan
At-Tirmidziy 3/141].
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: " خَطَّ لَنَا رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا، ثُمَّ قَالَ: " هَذَا
سَبِيلُ اللَّهِ "، ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ،
ثُمَّ قَالَ: " هَذِهِ سُبُلٌ قَالَ يَزِيدُ: مُتَفَرِّقَةٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ
مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ "، ثُمَّ قَرَأَ: وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي
مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ
عَنْ سَبِيلِهِ
Dari
‘Abdullah bin Mas’uud, ia berkata : “Rasulullah ﷺ pernah menggambar untuk kami sebuah garis
(di tanah), lalu bersabda : “Ini adalah jalan Allah”. Kemudian beliau
menggambar banyak garis di kanan dan kiri garis tersebut, kemudian bersabda : “Ini
adalah jalan-jalan yang lain, dimana setiap jalan tersebut ada setan yang
menyeru pada jalan tersebut”. Kemudian beliau membaca ayat : ‘Dan bahwa
(yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah
dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan
itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya’ (QS. Al-An’aam : 153)”
[Diriwayatkan oleh Ahmad, 1/435; sanadnya hasan].
‘Abdullah
bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu sendiri menafsirkan ash-shiraathul-mustaqiim
dengan perkataannya:
الصِّرَاطَ
الْمُسْتَقِيمَ، قَالَ: هُوَ كِتَابُ اللَّهِ
“Makna
‘ash-shiraathul-mustaqiim’ adalah Kitabullah” [Diriwayatkan oleh
Al-Haakim dalam Al-Mustadrak 2/258, dan ia menshahihkannya].
‘Abdullah
bin ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa – salah seorang pakar tafsir di
kalangan shahabat – menjelaskan:
هُوَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَصَاحِبَاهُ "، قَالَ:
فَذَكَرْنَا ذَلِكَ لِلْحَسَنِ، فَقَالَ: " صَدَقَ وَاللَّهِ وَنَصَحَ
وَاللَّهِ هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ،
وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا "
“Ash-shiraathul-mustaqiim
adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam dan dua orang
shahabatnya”. Perawi berkata : Maka kami menyebutkan hal itu kepada Al-Hasan,
lalu ia berkata : “Ia benar, demi Allah, ia telah memberikan nasihat, demi
Allah. (Ash-shiraathul-mustaqiim) adalah Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa aalihi wa sallam, Abu Bakr, dan ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa”
[Diriwayatkan oleh Al-Haakim dalam Al-Mustadrak, 2/259; dan ia
menshahihkannya].
Rasulullah
ﷺ
merupakan ash-shiraathul-mustaqiim (jalan yang lurus), karena Allah ta’ala
berfirman:
لَقَدْ كَانَ
لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ
وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah” [QS. Al-Ahzaab : 21].
Begitu
juga dengan Abu Bakr dan ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa, karena Nabi ﷺ sendiri yang memerintahkan para shahabat
(dan kita pada umumnya) untuk meneladani Abu Bakr dan ‘Umar sepeninggal beliau:
اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ
مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ
“Mencontohlah
kepada dua orang setelahku : Abu Bakr dan ‘Umar” [lihat : Silsilah
Ash-Shahiihah no. 1233].
So, jika
penafsiran-penafsiran yang didasarkan oleh riwayat/atsar dan perkataan as-salafush-shaalih
di atas dikatakan tidak tepat karena hanya kiasan saja; apakah
kita harus membenarkan penafsiran Ustadz Adi Hidayat di atas ? yaitu :
berikanlah kami ya Allah solusi yang mudah atas persoalan kami ?. Apakah kita
mesti meninggalkan hadits,
atsar sahabat dan ijmaa’
mufassiriin (sebagaimana ditegaskan Ibnu Katsiir) untuk mengikuti tafsir majaz/kiasan ala Ustadz Adi Hidayat ?.
Metode
penafsiran tanpa membawakan penjelasan ulama tentu sangat disayangkan bagi
sekelas Ustadz Adi Hidayat - yang saya yakin sangat mampu untuk membawakannya
(berikut judul, juz, halaman, dan letak baris kalimatnya) – karena rawan
kesalahan.
Ingat pesan Al-Imaam Ahmad bin Hanbal rahimahullah:
إيَّاكَ أنْ تتكلمَ
في مسألةٍ ليسَ لكَ فيها إمامٌ
“Berhati-hatilah
berkata dalam satu permasalahan yang engkau tidak memiliki pendahulunya” [Siyaru
A’laamin-Nubalaa’, 11/296].
[abul-jauzaa’
– bogor, 31032017 – 20:02 WIB].
Dikoreksi
oleh : Al-Ustadz Firanda Andirja hafidhahullah (https://goo.gl/I4wCVj).
Alhamdulillah,tabarokallah fik,dapat menemukan artikel penuh ilmu yg sangat ilmiyah,bantahan yg berdasarkan ilmu,semoga Allah ajawazala selalu meneguhkan dan istiqomah di jalan manhaj salaf,jazakumullah khoiron
ReplyDelete